SOLO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang mampu menggerakkan sektor pangan lokal menghadapi kenyataan pahit di lapangan. Para pedagang sayur di Pasar Legi, Solo, justru ogah ambil bagian lantaran harga beli dari penyelenggara dinilai terlalu rendah.
Iva Sri Surahmi, salah seorang pedagang sayur di Pasar Legi, mengaku sempat mendapatkan tawaran untuk menjadi pemasok kebutuhan sayur bagi program MBG. Namun, tawaran itu langsung ia tolak.
"Ditawari untuk nyuplai, tapi saya tolak. Harganya terlalu rendah, tidak sesuai dengan harga pasar," ujar Iva saat ditemui di kiosnya, Senin lalu.
Iva menjelaskan, sebagai pedagang di pasar tradisional, ia harus menanggung biaya bongkar muat, penyusutan barang, hingga retur jika sayur tidak segar. Dengan harga yang ditawarkan program MBG, ia justru khawatir akan merugi.
Tak hanya soal harga, Iva juga menyoroti potensi penurunan kualitas. Ia menilai, jika harga beli ditekan terlalu rendah, pemasok terpaksa mencari sayur dengan kualitas yang kurang baik agar tetap untung.
"Kalau harganya murah, barang yang dikirim juga pasti menyesuaikan. Nanti yang rugi ya anak-anak yang menerima makanannya," tambahnya.
Kondisi ini menjadi dilema. Program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi tersendat di rantai pasok hulu jika harga tidak kompetitif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Solo maupun pihak penyelenggara program MBG di wilayah tersebut. Namun, penolakan dari pedagang pasar tradisional ini bisa menjadi sinyal bagi pemerintah untuk mengevaluasi skema pengadaan bahan baku program.
Pasar Legi sendiri merupakan salah satu pusat sayuran terbesar di Solo. Jika para pedagang di sini ogah ambil bagian, pasokan sayur untuk MBG terancam tidak optimal.