KLATEN — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, sebuah pohon Ketos di Dukuh Ketos, Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Klaten, masih berdiri kokoh dengan segudang misteri. Usianya diperkirakan mencapai 700 tahun, dan hingga kini pohon tersebut dikeramatkan sebagai jelmaan tokoh spiritual yang dikenal dengan sebutan Eyang Bondho.
Masyarakat setempat meyakini pohon ini bukan sekadar pepohonan biasa. Beragam mitos melekat, mulai dari tempat yang kerap dijadikan lokasi ritual pesugihan hingga dipercaya sebagai pusat kerajaan tuyul. Kepercayaan ini sudah diwariskan secara turun-temurun, membuat sebagian warga enggan mendekati pohon tersebut pada malam hari.
Selain mitos yang menyelimutinya, pohon Ketos ini memiliki keanehan secara biologis. Warga setempat meyakini bahwa pohon ini tidak bisa dicangkok atau diperbanyak secara vegetatif. "Katanya, kalau ada yang nekat mengambil bagian pohon atau mencangkoknya, akan mengalami kesialan," ujar seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya.
Meski sarat mitos, pohon Ketos tetap lestari dan tidak ada yang berani menebangnya. Pemerintah desa setempat pun turut menjaganya sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah lokal. Keberadaan pohon ini kerap menjadi daya tarik bagi para peneliti budaya hingga wisatawan yang penasaran dengan cerita mistis di baliknya.
Pohon Ketos di Trucuk kini menjadi salah satu ikon budaya yang unik di Klaten. Mitos yang menyelimutinya bukan hanya cerita pengantar tidur, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur di tengah arus zaman.