JAWA TENGAH — Pertandingan fase grup yang berlangsung di Stadion Lusail, Qatar, Selasa (18/6) malam, nyaris menjadi mimpi buruk bagi juara bertahan. Mesir unggul lebih dulu 2-0 melalui dua serangan balik cepat di babak pertama. Argentina tampil pincang tanpa ritme permainan biasanya.
Pelatih Lionel Scaloni melakukan perubahan taktik di jeda pertandingan. Ia menarik satu gelandang dan memasukkan penyerang tambahan. Keputusan itu mulai membuahkan hasil saat Argentina memperkecil ketertinggalan di menit ke-55.
Messi yang turun ke lapangan sejak awal mulai mengambil alih kendali permainan. Umpan terobosannya yang menusuk pertahanan Mesir berhasil dikonversi menjadi gol oleh Julian Alvarez pada menit ke-63. Skor berubah 2-1, gairah Argentina kembali hidup.
Argentina terus menekan. Messi menjadi pusat segala serangan. Pada menit ke-78, ia menerima bola di luar kotak penalti, melewati satu pemain, dan melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Mesir. Skor imbang 2-2.
Stadion bergemuruh. Messi langsung berlari ke arah sudut lapangan sambil menangis. Rekan setimnya segera merangkulnya. Momen itu terekam kamera dan langsung menjadi sorotan di media sosial.
Argentina belum puas. Di menit ke-88, Lautaro Martinez memanfaatkan kemelut di depan gawang Mesir setelah tendangan bebas Messi membentur pagar betis. Bola liar jatuh tepat di kakinya dan ia menyonteknya masuk ke gawang. Argentina unggul 3-2.
Sisa waktu pertandingan tidak cukup bagi Mesir untuk menyamakan kedudukan. Wasit meniup peluit panjang dan Argentina memastikan tiga poin penting. Messi kembali menangis, kali sambil berlutut di tengah lapangan.
Kemenangan ini membawa Argentina memuncaki klasemen sementara Grup C dengan enam poin dari dua pertandingan. Mereka unggul selisih gol atas rival terdekat. Satu laga tersisa melawan Australia akan menentukan status juara grup.
Bagi Mesir, kekalahan ini membuat peluang lolos ke babak 16 besar masih terbuka. Mereka harus menang di pertandingan terakhir dan berharap hasil laga lain berpihak.