KARANGANYAR — Jejak sejarah di Karanganyar tersebar di beberapa titik, menawarkan narasi panjang tentang peradaban yang pernah hidup di lereng Gunung Lawu. Dari kompleks percandian hingga situs pemakaman, setiap lokasi memiliki kisah yang berbeda.
Salah satu situs yang paling dikenal adalah Astana Giribangun di Kecamatan Matesih. Kompleks pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Presiden Kedua RI, Soeharto, dan keluarganya.
Lokasinya berada di ketinggian, menghadap langsung ke arah Kota Solo, dan kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Selain makam utama, kompleks ini juga memiliki arsitektur khas Jawa yang sarat makna filosofis.
Dua candi ini menjadi bukti peralihan pengaruh Hindu ke Islam di tanah Jawa. Candi Sukuh, yang terletak di lereng Gunung Lawu, dikenal dengan bentuknya yang unik menyerupai punden berundak.
Relief-reliefnya menggambarkan kisah kehidupan manusia yang terkesan vulgar, berbeda dengan candi-candi Hindu pada umumnya. Sementara itu, Candi Cetho memiliki struktur bertingkat yang masih digunakan sebagai tempat sembahyang oleh umat Hindu setempat hingga kini.
Tidak jauh dari kawasan Candi Sukuh, terdapat Situs Planggiran yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Lokasinya yang sunyi dan dikelilingi hutan pinus menambah aura sakral.
Di situs ini, pengunjung dapat melihat batu-batu besar yang disusun rapi dan beberapa petilasan yang diyakini sebagai tempat meditasi. Situs ini kerap menjadi tujuan wisata spiritual dan sejarah.
Di kawasan Dayu, Kecamatan Gondangrejo, ditemukan berbagai fosil dan artefak prasejarah. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Karanganyar telah dihuni manusia purba ribuan tahun lalu.
Beberapa koleksi yang ditemukan antara lain alat-alat batu dan sisa-sisa hewan purba. Pemerintah daerah setempat berencana mengembangkan kawasan ini menjadi museum terbuka untuk edukasi publik.
Makam Ki Ageng Gribig di Kecamatan Jaten juga masuk dalam daftar situs bersejarah. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah Karanganyar pada masa lampau.
Setiap tahun, makam ini ramai dikunjungi peziarah, terutama saat tradisi "Kirab Gunungan" yang digelar masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi simbol akulturasi budaya dan religi yang masih lestari.