JAWA TENGAH — Program yang dijalankan oleh kelompok ibu-ibu Dasawisma ini mengubah pekarangan rumah menjadi lahan produktif. Beragam komoditas ditanam, mulai dari sayuran, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga budidaya ikan air tawar seperti lele dan patin.
Perwakilan CSR PAMA Area Kutai Timur mengatakan program ini berangkat dari keyakinan bahwa ketahanan pangan dimulai dari keluarga. “Masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap pangan yang sehat dan bergizi, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan serta memperkuat semangat gotong royong,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7).
Hasil panen tidak hanya dikonsumsi sendiri. Sebagian dipasarkan ke masyarakat sekitar, memberikan nilai tambah ekonomi dan sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Program ini juga terintegrasi dengan upaya kesehatan masyarakat. Sayuran dan ikan hasil panen dijadikan bahan baku Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu binaan PAMA. “Melalui pendekatan ini, program Kebun Dasawisma turut berkontribusi dalam mendukung pemenuhan gizi balita serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” jelas perwakilan CSR tersebut.
Desa Swarga Bara sendiri merupakan wilayah binaan PAMA yang telah meraih predikat Program Kampung Iklim (ProKlim) Kategori Utama. Sinergi antara masyarakat dan perusahaan terus dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian sekaligus menjaga lingkungan.
Saat ini, ada lima area percontohan Kebun Dasawisma yang tersebar di Kampung Berdikari PAMA. Lokasi-lokasi itu menjadi pusat pembelajaran bagi warga dalam menerapkan pemanfaatan pekarangan rumah, budidaya tanaman pangan, dan pengelolaan lingkungan yang ramah lingkungan.
PAMA Area Kutai Timur berkomitmen terus mendampingi masyarakat membangun desa yang mandiri, sehat, dan produktif. Kebun Dasawisma menjadi bukti kolaborasi perusahaan dan masyarakat mampu menciptakan manfaat nyata—dari ketahanan pangan, kesejahteraan ekonomi, hingga pelestarian lingkungan.