BLORA — Nama Komang Gede Irawadi mungkin tidak setenar pejabat publik lainnya, tetapi jasanya bagi Kabupaten Blora terpatri dalam sejarah lembaga keuangan daerah. Pria kelahiran Bali ini adalah sosok di balik suksesnya pendirian PD BPR Kabupaten Dati II Blora—yang kini dikenal sebagai BPR Blora Artha—pada Oktober 1998. Kisahnya dimulai dari sebuah kegagalan beruntun.
Proses pendirian BPR Blora Artha nyaris gagal total. Dua kali kandidat direktur yang diajukan pemerintah daerah tidak mampu melewati fit and proper test di Bank Indonesia. Harapan memiliki bank milik sendiri perlahan memudar.
Di titik kritis itulah, Komang yang saat itu masih berstatus pegawai negeri di Bappeda Blora mendapat perintah pimpinan. Ia mengaku sempat menolak karena merasa terlalu muda dan banyak pegawai yang lebih senior. Namun, perintah itu tidak memberinya banyak pilihan.
"Ini kesempatan terakhir. Kalau gagal lagi, BPR tidak akan pernah berdiri," kenang Komang menirukan pesan pimpinan saat itu, Jumat (17/7/2026).
Berbekal pengalaman bertahun-tahun di Bank Duta—dengan penempatan di Denpasar, Mataram, hingga Madiun—Komang menghadapi ujian kelayakan dengan beban moral besar. Bukan hanya karier pribadi yang dipertaruhkan, melainkan masa depan lembaga keuangan yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi warga Blora.
Hasilnya, ia dinyatakan lulus. Izin pendirian PD BPR Kabupaten Dati II Blora resmi diterbitkan pada Oktober 1998.
"Justru setelah izin keluar, tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai. Bank yang baru lahir harus mampu membangun kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Bagi Komang, BPR Blora Artha sejak awal dirancang untuk membuka akses permodalan bagi pedagang pasar, pelaku UMKM, dan masyarakat kecil yang sulit menjangkau layanan perbankan konvensional. Konsep ini, menurutnya, masih relevan hingga kini.
"Kekuatan BPR Blora Artha terletak pada kedekatannya dengan masyarakat. Integritas, profesionalisme, pelayanan, dan kehati-hatian harus terus dijaga agar kepercayaan publik tidak luntur," tegasnya.
Perjalanan Komang tak berhenti sebagai direktur BPR. Selepas kuliah di Yogyakarta, ia sempat menjadi asisten dosen sebelum memilih karier perbankan. Saat mengikuti seleksi CPNS Kementerian Dalam Negeri, ia tak pernah membayangkan akan ditempatkan di Blora, daerah yang saat itu terasa asing baginya.
Namun, ia menjalani penugasan itu sebagai bentuk pengabdian. Dari staf Bidang Ekonomi di Bappeda, kariernya terus menanjak hingga dipercaya memimpin berbagai jabatan strategis, termasuk jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten Blora.
Mulai 1 Agustus 2026, Komang Gede Irawadi resmi memasuki masa purna tugas. Namun, ia meninggalkan warisan yang nyata: BPR Blora Artha, lembaga keuangan yang lahir dari keberanian mengambil tanggung jawab ketika banyak orang memilih mundur.
"Saya hanya berharap BPR Blora Artha tetap menjaga kepercayaan masyarakat, terus berinovasi, dan tidak pernah melupakan tujuan awal pendiriannya, yakni tumbuh bersama masyarakat Blora," pesannya menutup perjalanan panjang pengabdiannya. (*)