PEKALONGAN — Tembok tinggi Rutan Kelas IIA Pekalongan tak menghalangi semangat belajar. Sebanyak 23 warga binaan kini mengikuti program Kejar Paket A, setara SD, yang digelar di dalam rutan. Program ini bukan sekadar mengejar ijazah, melainkan membuka jalan bagi mereka yang ingin memulai hidup baru dengan bekal pendidikan.
Program ini digelar pada Minggu (26/7/2026) dan menjadi salah satu agenda pembinaan kemandirian warga binaan. Kepala Rutan Pekalongan, Nanang Adi Susanto, menyatakan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana. "Kami ingin mereka keluar nanti tidak hanya bebas, tapi juga punya modal untuk hidup lebih baik," ujarnya.
Salah satu peserta, Herry Irawan, mengaku sudah lama kehilangan kesempatan bersekolah. Ia sempat mengenyam pendidikan, namun berhenti dan tak pernah mendapat ijazah. "Pengin belajar lagi," kata Herry saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Tanpa ijazah, Herry merasakan sendiri betapa sempitnya pilihan pekerjaan. Ia hanya mengandalkan kemampuan mengemudi untuk mencari penghasilan. "Banyak pekerjaan minta ijazah. Kalau enggak punya, ya cuma bisa jadi sopir atau buruh lepas," tambahnya.
Kini, di dalam rutan, Herry melihat celah untuk memperbaiki masa depan. "Mumpung di sini nggak ada kesibukan, ikut lah," ucapnya ringan, namun tatapannya serius.
Program Kejar Paket A ini berlangsung secara terjadwal dengan pengajar dari pihak rutan dan relawan. Materi yang diajarkan mencakup pelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta pengetahuan umum. Warga binaan yang lulus nantinya akan mendapatkan ijazah resmi yang setara dengan lulusan SD.
Herry membayangkan hidup yang berbeda jika dulu ia sempat menyelesaikan pendidikan. "Mungkin bisa kerja tetap, gajian setiap bulan, enggak ngandelin proyek harian," katanya. Kini, ia bertekad menyelesaikan program ini hingga tuntas.
Pihak rutan berharap program serupa bisa terus berlanjut dan diperluas ke jenjang Paket B setara SMP. "Ini investasi jangka panjang. Kalau mereka keluar punya ijazah, resiko kembali berulah bisa ditekan," ujar seorang petugas pembinaan.
Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, semangat Herry dan 22 warga binaan lainnya membuktikan bahwa pendidikan bisa dimulai kapan saja — bahkan dari balik jeruji.