TOKYO — Guncangan dahsyat gempa bumi magnitudo 7,1 yang melanda Jepang tidak hanya memicu peringatan tsunami, tetapi juga merobek sejumlah infrastruktur vital. Laporan yang diterima dari berbagai kantor berita menunjukkan bahwa jembatan layang di beberapa titik mengalami kerusakan struktural berat, dengan sebagian badan jalan putus dan ambles.
Sejumlah pusat perbelanjaan atau mal di kawasan terdampak juga tidak luput dari amukan gempa. Dinding retak, plafon runtuh, dan kaca jendela pecah berhamburan dilaporkan terjadi di beberapa lokasi. Otoritas setempat langsung menutup akses ke bangunan-bangunan tersebut untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami masih melakukan asesmen menyeluruh terhadap tingkat kerusakan. Prioritas utama saat ini adalah evakuasi warga dan memastikan tidak ada korban yang tertimbun,” ujar seorang juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Jepang dalam pernyataan resminya.
Guncangan yang berlangsung selama puluhan detik itu membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah serta gedung perkantoran. Taman-taman kota dan lapangan terbuka langsung berubah menjadi tempat penampungan sementara. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan untuk wilayah pesisir, namun kemudian dicabut setelah gelombang tidak setinggi perkiraan awal.
Jaringan listrik dan komunikasi di beberapa distrik dilaporkan terputus, menyulitkan proses koordinasi tim penyelamat. Pemerintah Jepang telah mengerahkan personel militer dan tim khusus untuk membantu proses pencarian dan evakuasi di daerah yang paling parah terdampak.
Peristiwa ini kembali mengingatkan Indonesia, khususnya wilayah rawan gempa seperti Jawa Tengah, akan pentingnya kesiapsiagaan. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat kerap mengingatkan bahwa konstruksi bangunan tahan gempa dan edukasi mitigasi bencana adalah kunci mengurangi risiko korban jiwa. “Jepang memiliki standar bangunan yang sangat ketat. Ini yang harus terus kita tiru dan adaptasi di daerah-daerah rawan gempa di Indonesia,” ujar seorang pengamat kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada.