SLAWI — Ribuan orang duduk melingkar di bawah lampu Alun-Alun Hanggawana, Minggu (26/7) malam. Mereka menyeduh teh dari poci tanah liat, ditemani alunan musik keroncong dan lagu tegalan. Ini adalah puncak Festival Moci 2026 yang berlangsung sejak 24 Juli.
Panitia mencatat 425 paket poci habis terjual di malam terakhir. Satu paket berisi empat gelas. Ditambah 40 tamu undangan, total 1.740 orang ikut moci bareng. Ketua Panitia M. Fatkhurohman memastikan angka itu belum termasuk pengunjung yang hanya berkeliling.
Peserta tidak hanya dari Tegal dan sekitarnya seperti Brebes, Pemalang, dan Purbalingga. Pada hari kedua, 15 mahasiswa asing dan 50 mahasiswa lokal turut menjelajahi pameran produk teh. Empat perusahaan teh raksasa—Teh Cap Poci, Tong Tji, 2 Tang, dan Gopek—memamerkan produk unggulan mereka.
Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid hadir mewakili Bupati Ischak Maulana Rohman. Ia menyebut alun-alun bukan sekadar arena festival, melainkan ruang temu budaya dan penggerak ekonomi warga. “Secangkir teh bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan dan jati diri warga Tegal,” ujarnya.
Pimpinan Kebun PT Sinar Sosro Gunung Slamet, Arief Maulana Yamin, menekankan sisi edukatif festival. Menurutnya, masyarakat perlu paham bahwa moci bukan sekadar menyeduh teh, melainkan ada filosofi dan sejarah panjang. “Kami hadir bukan semata berjualan, melainkan ada tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat tentang budaya minum teh yang benar,” tegas Arief.
Ia juga menyarankan fasilitas pendukung seperti air bersih, toilet umum, dan variasi lomba ditingkatkan pada penyelenggaraan berikutnya.
Doyo, warga Bumijawa, mengaku bangga tradisi leluhurnya dirayakan secara megah. “Ini ajang luar biasa untuk merawat identitas Tegal. Harapannya bisa rutin digelar setiap tahun dengan persiapan yang makin matang,” katanya.
Harapan itu tampaknya terwujud. Di akhir acara, Pemkab Tegal bersama empat produsen teh besar menandatangani komitmen bersama untuk menjadikan Festival Moci sebagai agenda tahunan. Langkah ini diharapkan melestarikan tradisi wasgitel—wangi, panas, sepet, legi, dan kental—sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.