JAWA TENGAH — Musim liburan kerap menjadi momen di mana pemilik truk pikap atau SUV memanfaatkan kendaraannya untuk menarik beban tambahan, mulai dari trailer barang hingga caravan. Padahal, tanpa perhitungan yang matang, aktivitas ini bisa berubah menjadi petaka. Salah satu pedoman yang paling direkomendasikan para ahli adalah apa yang disebut sebagai aturan 80 persen—sebuah standar keselamatan yang sayangnya masih sering diabaikan banyak pengemudi.
Setiap kendaraan memiliki angka Gross Vehicle Weight Rating (GVWR) yang tercantum di buku manual atau stiker di pilar pintu. Angka ini adalah batas absolut yang tidak boleh dilampaui. Namun, aturan 80 persen hadir sebagai batas aman yang lebih konservatif, memberikan ruang bagi faktor-faktor tak terduga seperti kondisi jalan menanjak, angin kencang, atau suhu mesin yang meningkat.
Menarik beban di angka 100 persen dari kapasitas membuat komponen seperti rem, transmisi, dan ban bekerja di ambang batas. Risikonya bukan hanya kerusakan mekanis, tetapi juga hilangnya kendali saat manuver darurat. Dengan membatasi beban di 80 persen, kendaraan masih memiliki tenaga cadangan untuk berakselerasi dan deselerasi secara wajar.
Fenomena yang paling ditakuti saat menunda adalah trailer swing atau goyangan trailer dari kiri ke kanan. Kondisi ini sering dipicu oleh distribusi beban yang tidak merata di atas trailer. Ketika bobot di bagian belakang trailer terlalu berat, titik tumpu menjadi tidak stabil dan gaya aerodinamis dari angin samping bisa memperparah goyangan.
Pada kecepatan tinggi, goyangan kecil bisa berkembang menjadi osilasi yang sulit dikendalikan, bahkan membuat kendaraan penarik ikut terpental. Aturan 80 persen secara tidak langsung membantu mencegah fenomena ini karena beban yang lebih ringan berarti inersia yang lebih kecil, sehingga gaya luar tidak mudah mengganggu keseimbangan.
Sistem rem truk atau SUV dirancang untuk menghentikan bobot kendaraan itu sendiri, bukan bobot gabungan yang jauh lebih berat. Ketika beban tambahan mendekati batas maksimal, jarak pengereman bisa bertambah hingga 30 persen lebih panjang. Ini adalah perbedaan yang sangat signifikan ketika Anda harus berhenti mendadak di jalan tol yang padat.
Selain faktor keselamatan, efisiensi bahan bakar juga menjadi korban. Mesin yang dipaksa bekerja keras di luar zona efisiensi akan mengonsumsi bensin atau diesel jauh lebih boros. Beban berlebih juga mempercepat keausan kopling dan komponen suspensi, yang berujung pada biaya perawatan yang membengkak di kemudian hari.
Untuk menerapkan aturan ini, pemilik kendaraan perlu mengetahui angka towing capacity yang tertera pada spesifikasi kendaraan. Ambil angka tersebut, lalu kalikan dengan 0,8. Hasilnya adalah bobot maksimal trailer beserta isinya yang disarankan.
Perlu diingat, bobot yang dihitung adalah berat kotor trailer (termasuk barang bawaan), bukan hanya berat kosong trailer. Jangan lupa memperhitungkan bobot penumpang dan barang di dalam kabin kendaraan penarik, karena semuanya berkontribusi pada beban total yang harus ditopang mesin dan rem.
Jika ragu dengan perhitungan sendiri, pengemudi bisa memanfaatkan fasilitas penimbangan kendaraan di rest area tertentu atau menggunakan alat ukur beban gandar. Lebih baik meluangkan waktu beberapa menit untuk memastikan beban aman daripada menghadapi risiko fatal di tengah perjalanan.