JAWA TENGAH — Spekulasi merger antara Tesla dan SpaceX kembali menguat setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa jajaran eksekutif Tesla diminta menyiapkan skenario pemisahan bisnis di China. Meski Elon Musk membantah rencana itu "bahkan tidak pernah muncul dalam pembahasan", para analis menilai langkah tersebut hampir tak terhindarkan apabila kedua perusahaan benar-benar bergabung.
Tekanan datang dari dua arah. Tesla menggantungkan produksi dan penjualannya pada pasar China, sementara SpaceX semakin dalam menjalin kontrak dengan lembaga pemerintah federal AS. Sekitar seperlima pendapatan SpaceX pada 2025 berasal dari sektor tersebut, menjadikan isu keamanan nasional sebagai penghalang terbesar.
Morningstar memetakan beberapa kemungkinan yang dapat dieksekusi Tesla. Mulai dari pemisahan unit bisnis China (spin-off), penjualan aset kepada pihak ketiga, hingga pelepasan dengan skema lisensi jangka panjang atas merek dan teknologi. Setiap opsi memiliki konsekuensi berbeda bagi kelangsungan operasional dan citra merek.
Menurut Brian Mulberry, Chief Market Strategist Zacks Investment Management, pemisahan bisnis China berpotensi "membuka jalan bagi merger yang lebih bersih di dalam negeri" di AS. Namun ia mengingatkan bahwa proses tersebut tidak akan sederhana karena melibatkan kepentingan pemerintah China.
Pabrik Gigafactory Shanghai bukan sekadar fasilitas perakitan biasa. Fasilitas ini merupakan pusat produksi terbesar Tesla dan lumbung ekspor utama ke Eropa, Kanada, serta kawasan Asia Pasifik. Selama bertahun-tahun, pabrik ini menyumbang lebih dari separuh pengiriman kendaraan Tesla secara global.
Pemerintah China pun memberikan insentif besar, termasuk tarif pajak perusahaan yang lebih rendah pada periode 2019–2023. Ikatan yang kuat ini membuat proses pelepasan menjadi rumit. Mulberry memperkirakan setiap entitas Tesla yang berdiri sendiri di China kemungkinan memerlukan persetujuan otoritas setempat. Bahkan, pemerintah China "more than likely to require" kursi dalam dewan direksi serta berpotensi menempatkan pihak yang sejalan dengan kepentingan negara pada posisi eksekutif.
Pemisahan operasional Tesla di China tidak sesederhana menjual aset manufaktur. Bill Russo, pendiri Automobility, menyoroti keterkaitan perangkat lunak, hak kekayaan intelektual, sistem kecerdasan buatan (AI), tata kelola data, hingga rantai pasok global yang saling terhubung.
Tesla memang masih bisa memberikan lisensi penggunaan merek dan teknologi kepada entitas China. Namun model ini berisiko menyulitkan perusahaan menjaga konsistensi produk di berbagai pasar. Masalah lain muncul dari transfer teknologi berkelanjutan, seperti pembaruan perangkat lunak untuk sistem kendaraan otonom, yang berpotensi berbenturan dengan regulasi ekspor teknologi AS.
Meski China menjadi tulang punggung produksi, tidak semua investor memandang pelepasan bisnis di sana sebagai langkah negatif. Steve Greenfield, pendiri Automotive Ventures, menilai valuasi Tesla saat ini lebih banyak ditopang oleh prospek teknologi robotika dan autonomous driving dibandingkan bisnis kendaraan listriknya.
"Lagipula, valuasi Tesla sebenarnya tidak didasarkan pada bisnis otomotif," kata Greenfield. Ia menambahkan, "Jika tujuan akhir mereka adalah diakuisisi oleh SpaceX dan dalam kurun waktu lima atau sepuluh tahun beralih dari kendaraan ke robotika humanoid, mereka mungkin tidak terlalu memedulikan dampak jangka pendek terhadap citra merek."
Bagi Tesla, keputusan ini memang pilihan berat. Bisnis otomotif selama ini menjadi sumber pendanaan utama untuk pengembangan robotika dan teknologi otonom. Namun jika merger dengan SpaceX adalah tujuan akhir, melepas China mungkin menjadi harga yang harus dibayar.