JAWA TENGAH — Memilih smartwatch dengan pengukur tekanan darah butuh kehati-hatian ekstra. Hasil pengukuran dari perangkat wearable umumnya bersifat referensi, bukan pengganti alat medis tensimeter. Dari tiga produk yang tersedia di Indonesia—Huawei Watch D2, ASUS VivoWatch 5, dan Samsung Galaxy Watch—kita perlu memilah mana yang sekadar menampilkan angka, dan mana yang benar-benar bisa diandalkan untuk memantau tren kesehatan harian.
Harga: Rp5.999.000 (situs resmi Huawei)
Ini jam tangan paling serius di daftar ini. Huawei Watch D2 punya fitur Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) yang secara berkala mengukur tekanan darah selama 24 jam penuh, lalu menghitung rata-rata tekanan darah di siang dan malam hari. Data ini kemudian dianalisis untuk membantu menilai risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular—sesuatu yang tidak bisa dilakukan smartwatch biasa.
Fitur ABPM ini direkomendasikan untuk pengguna dengan tekanan sistolik rata-rata 120 mmHg atau diastolik 80 mmHg ke atas, atau bagi mereka yang mendapat rekomendasi dokter. Namun perlu dicatat: selama periode pemantauan, kamu disarankan memilih hari dengan aktivitas tidak terlalu padat agar hasilnya akurat.
Selain tekanan darah, Watch D2 punya Health Glance Report yang merangkum sembilan indikator: SpO2, denyut jantung, stres, suhu kulit, langkah, aktivitas olahraga, durasi tidur, hingga resting heart rate. Desainnya juga dibuat ringan dan tipis untuk kenyamanan dipakai seharian—penting mengingat fitur ABPM mengharuskan jam menempel di pergelangan tangan secara terus-menerus.
Catatan penting: Huawei punya pedoman ketat untuk pengukuran tunggal. Pergelangan tangan harus lurus, jam sejajar dengan jantung, siku ditopang, kaki menapak rata di lantai, dan kamu dilarang berbicara atau menekan airbag selama proses berlangsung. Hasil pengukuran yang asal-asalan akan menghasilkan data yang menyesatkan.
Harga: Rp3.759.030 (situs resmi ASUS)
VivoWatch 5 menawarkan pendekatan berbeda. Selain pengukur tekanan darah, jam ini dibekali sensor elektrokardiogram (EKG) yang bisa merekam aktivitas listrik jantung—fitur yang jarang ada di kelas harga di bawah Rp4 juta. Ini nilai jual utama yang membuatnya layak dipertimbangkan dibanding sekadar jam tangan fitness biasa.
Sayangnya, bahan artikel tidak menyebutkan detail spesifikasi seperti ukuran layar, kapasitas baterai, atau akurasi sensor tekanan darahnya. Yang jelas, ASUS memposisikan produk ini sebagai perangkat kesehatan yang lebih serius dibanding lini VivoWatch sebelumnya, dengan fokus pada pemantauan kondisi jantung secara menyeluruh.
Satu hal yang perlu diingat: di harga Rp3,7 jutaan, kamu bisa mendapat fitur EKG yang biasanya baru tersedia di jam tangan flagship. Namun, ekosistem aplikasi dan pembaruan fitur ASUS tidak seagresif Huawei atau Samsung. Kalau kamu butuh perangkat yang bisa diandalkan untuk data kesehatan harian tanpa embel-embel fitur pintar berlebihan, VivoWatch 5 cukup menarik.
Bahan artikel menyebut Samsung sebagai salah satu pemain di kategori ini, namun detail spesifik model dan harganya tidak dijelaskan. Yang perlu kamu tahu: lini Galaxy Watch (terutama seri Classic dan Ultra) sudah mendukung pengukuran tekanan darah, tetapi fitur ini baru aktif setelah dikalibrasi dengan tensimeter manual. Ini bukan kelemahan—justru cara Samsung memastikan akurasi—tapi butuh effort ekstra di awal pemakaian.
Kelebihan Samsung ada di ekosistem: Wear OS, integrasi Samsung Health yang rapi, dan pilihan model dengan desain bezel berputar yang ikonik. Kekurangannya, daya tahan baterai umumnya lebih pendek dibanding Huawei Watch D2, terutama jika fitur pemantauan kesehatan aktif terus-menerus.
Kalau kamu benar-benar butuh pemantauan tekanan darah kontinu karena faktor risiko hipertensi, Huawei Watch D2 adalah pilihan paling masuk akal—fitur ABPM 24 jam-nya tidak dimiliki kompetitor di kelas harga ini. Ini bukan jam tangan untuk gaya-gayaan; ini alat pemantau yang kebetulan berbentuk jam tangan.
Untuk kamu yang ingin fitur kesehatan jantung lengkap tapi budget terbatas, ASUS VivoWatch 5 menawarkan nilai terbaik dengan sensor EKG di harga Rp3,7 jutaan. Sedangkan Samsung Galaxy Watch cocok untuk kamu yang sudah terikat ekosistem Android dan tidak keberatan melakukan kalibrasi manual di awal.
Ingat, apapun pilihanmu, hasil pengukuran dari smartwatch tetaplah referensi. Jika kamu memiliki riwayat hipertensi atau penyakit jantung, konsultasikan dengan dokter sebelum mengandalkan data dari perangkat ini.