REMBANG — Bupati Rembang Harno menyatakan wilayah pesisir kabupatennya menyimpan potensi kelautan besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Karena itu, penanganan abrasi di titik-titik rawan dinilai mendesak agar tidak menggerus kawasan pantai yang menjadi tumpuan hidup warga nelayan.
Sejumlah lokasi yang mengalami abrasi telah diusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tim dari pemerintah pusat juga sudah meninjau langsung kondisi pesisir Rembang sebagai bahan penilaian awal.
Harno menegaskan pembangunan sabuk laut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi menjaga kawasan pesisir Pulau Jawa dari ancaman abrasi.
"Rembang kaya potensi laut. Kelautannya harus bisa dimaksimalkan. Bagaimana masyarakat nelayan bisa lebih sejahtera. Namun tempat tertentu kadang banyak kena abrasi," kata Harno.
Penanganan di lapangan nantinya disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah. Tidak semua garis pantai akan dibangun dengan konstruksi beton.
"Ada yang perlu mangrove, breakwater, beton semua sudah dipetakan. Untuk Rembang sudah dimulai Puskesmas, lainnya sabar menunggu," ujarnya.
Kawasan Sarang menjadi salah satu lokasi yang lebih dulu mendapat penanganan. Pekerjaan di area belakang Puskesmas Sarang disebut sudah berjalan.
Rencana perlindungan pesisir ini merupakan bagian dari kajian menyeluruh terhadap kawasan pantai mulai Banten hingga Jawa Timur. Pemerintah menyiapkan skema penanganan yang berbeda-beda sesuai kondisi geografis tiap daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang Nurida Andante Islami membenarkan bahwa pesisir dari Kaliori hingga Sarang termasuk dalam zona penanganan. Bentuk konstruksi akan menyesuaikan kondisi wilayah setempat.
Pada kawasan yang masih memiliki ekosistem mangrove, penanganan tidak harus memakai beton dan bisa menerapkan konsep hybrid.
"Untuk yang mengelola Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ)," kata Andante.
Tim BOPPUJ sebelumnya telah meninjau langsung kondisi pesisir Rembang. Hasil pengamatan itu menjadi bagian dari penyusunan rencana teknis pembangunan. Kajian juga melibatkan kalangan akademisi, termasuk Universitas Diponegoro (Undip).
Di luar proyek perlindungan pesisir, sejumlah program pengembangan kawasan nelayan mulai berjalan di Rembang. Salah satunya Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang diarahkan menyediakan fasilitas dan tempat usaha bagi masyarakat nelayan.
Tiga lokasi di Rembang masuk program tersebut, salah satunya berada di Desa Pasarbanggi. Dengan masuknya Rembang dalam prioritas penanganan pesisir, pemerintah daerah berharap perlindungan kawasan pantai bisa berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi warga pesisir.