KABUPATEN SEMARANG — Sebanyak 21 bank sampah aktif di Desa Bergas Kidul menjadi titik awal proyek pengolahan limbah plastik multilayer (MLP) yang digagas Giselle Purnama. Sampah sachet yang selama ini sulit terserap sistem pengelolaan konvensional dikumpulkan, lalu diolah menjadi particle board atau lembaran material bahan dasar berbagai produk.
Dari 400 kilogram MLP yang terkumpul, proses pengolahan menghasilkan 20 unit meja dan kursi. Furnitur itu diserahkan kepada PAUD/TPA As Syukur di Leyangan sebagai penunjang kegiatan belajar dan bermain anak-anak.
Giselle menyebut proyek ini berangkat dari pengamatannya saat menjalani praktik kerja lapangan di Sido Muncul pada 2025. Pengalaman itu membuka pandangannya terhadap potensi bank sampah di Bergas Kidul yang belum termanfaatkan sepenuhnya.
"Saya melihat ada potensi besar dari bank sampah di Bergas Kidul. Saya ingin sampah yang selama ini belum termanfaatkan bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, sehingga manfaatnya kembali kepada masyarakat dan sekaligus mendukung kepedulian terhadap lingkungan hijau," ujar Giselle.
Bersama Community Development Sido Muncul dan pengelola bank sampah setempat, ia mendorong pemanfaatan MLP menjadi material yang punya fungsi baru. Sampah tidak lagi berhenti di tahap pemilahan, tetapi diolah menjadi bahan yang bisa dibentuk jadi produk jadi.
Wujud nyata gagasan itu digelar melalui workshop pengolahan sampah MLP pada Juli 2026. Warga diperkenalkan pada cara memanfaatkan plastik multilayer menjadi bahan olahan, sekaligus didorong mengembangkan kreativitas lewat lomba pembuatan produk.
Hasilnya beragam, mulai dari tempat sampah, meja, kursi, hiasan rumah, hingga rak buku dan rak sepatu. Produk-produk itu memperlihatkan bahwa sampah yang sulit ditangani masih punya nilai guna bila didukung pengetahuan dan keterampilan yang sesuai.
"Prinsipnya dari masyarakat, untuk masyarakat. Saya berharap kegiatan ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi warga, baik dari sisi lingkungan maupun peluang meningkatkan kesejahteraan," kata Giselle.
PAUD/TPA As Syukur di Leyangan menerima bantuan meja, kursi, dan mainan edukasi untuk menunjang kegiatan harian. Lembaga ini telah berdiri sejak 2013 dan kini melayani 15 anak dengan dukungan lima pengasuh.
Kegiatan pengasuhan dan pembelajaran berjalan setiap Senin hingga Sabtu. Selain kegiatan akademis, pembelajaran dilakukan melalui bermain dan pendidikan agama untuk membantu anak-anak belajar, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekitarnya.
"Alhamdulillah, bantuan meja dan kursi ini sangat membantu kegiatan pembelajaran anak-anak. Apalagi ada dukungan mainan edukasi yang bisa digunakan untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari," ujar Ketua PAUD/TPA As Syukur, Siti Makfiah.
Layanan penitipan di PAUD/TPA As Syukur ditawarkan dengan biaya mulai Rp450 ribu, dengan pilihan penitipan harian bagi orang tua yang membutuhkan. Ketersediaan fasilitas yang memadai menjadi salah satu kebutuhan untuk menunjang aktivitas pengasuhan dan pembelajaran enam hari dalam sepekan.
Bagi warga Bergas Kidul, workshop MLP membuka cara pandang baru terhadap peran bank sampah. Selama ini bank sampah dikenal sebagai tempat pengumpulan material bernilai jual. Kini fungsinya meluas menjadi bagian dari rantai pemanfaatan limbah menjadi produk yang berguna sehari-hari.
Proyek Giselle menunjukkan bahwa plastik multilayer yang selama ini dianggap tidak bernilai masih bisa diolah menjadi material fungsional. Pengetahuan, keterampilan, dan proses pengolahan yang tepat menjadi kunci agar limbah tersebut tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.