JAWA TENGAH — Lebih dari 3.000 pelari memadati kawasan Kota Lama Semarang pada Sabtu (10/10/2026) malam dalam ajang Semarang Heritage Night Run (SHNR) 2026. Kegiatan bertema "Bergerak Hebat Menyusuri Harmoni Kota" ini menggabungkan olahraga lari malam dengan eksplorasi sejarah, budaya, dan kuliner khas Semarang. Pemerintah Kota Semarang berharap gelaran ini menggerakkan ekonomi pelaku UMKM di kawasan Kota Lama dan sekitarnya.
Peserta SHNR 2026 berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga komunitas lari. Titik start dan finish ditempatkan di Metro Point Kota Lama, menjadikan kawasan bersejarah itu sebagai pusat keramaian selama acara berlangsung.
Kolaborasi antara Pemerintah Kota Semarang dan Katadata sebagai mitra penyelenggara menjadi dasar pelaksanaan kegiatan. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan konsep lari malam sengaja dipilih untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi peserta.
"Run itu kan [biasanya] pagi, [SHNR] ini malam, seru kan? Terus, heritage, karena Kota Semarang terkenal dengan heritage dan kuliner. Nah, kami membuat sesuatu yang different," ujar Agustina dalam pemberitaan mengenai rencana penyelenggaraan SHNR pada 31 Agustus 2026.
Panitia merancang rute yang melewati lima zona tematik atau cheering points. Setiap zona menghadirkan pertunjukan dan suasana berbeda, memperkenalkan keberagaman budaya Semarang kepada para pelari.
Pengalaman peserta diperkaya dengan instalasi pesan penyemangat dalam bahasa Jawa, Mandarin, dan Belanda. Permainan tradisional engklek juga hadir di sepanjang rute, menjadikan perjalanan lari sebagai ruang mengenal sejarah kota secara lebih dekat.
Semangat keberagaman tercermin melalui penggunaan Warak Ngendog sebagai ikon visual utama SHNR 2026. Simbol khas Semarang itu merepresentasikan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab yang telah hidup berdampingan selama beberapa generasi.
Pendekatan interaktif ini membuat peserta dapat mengenal kekayaan budaya Semarang tanpa harus mengikuti kegiatan wisata sejarah dalam format konvensional. Kawasan bersejarah tidak hanya menjadi tempat menikmati bangunan peninggalan masa lalu, tetapi juga ruang publik yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat.
Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung diharapkan meningkatkan aktivitas ekonomi di kawasan Kota Lama dan sekitarnya. Agustina berharap manfaat kegiatan ini menjangkau kawasan bersejarah lain seperti Pecinan, Kauman, dan Kampung Melayu.
Kawasan-kawasan tersebut memiliki daya tarik wisata beragam, mulai dari bangunan bersejarah, tradisi masyarakat, hingga kuliner khas yang menjadi bagian dari identitas Semarang. Pelaku usaha lokal berpeluang memperoleh tambahan konsumen melalui penjualan makanan dan minuman, produk kerajinan, maupun cenderamata.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan sport tourism di Semarang. Pemerintah Kota Semarang ingin memanfaatkan karakter khas kota untuk mengembangkan wisata berbasis olahraga, sekaligus memperkuat identitas Semarang sebagai kota yang merawat warisan sejarah dan budaya tanpa kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman.