Pencarian

Tanggul Sungai Silempeng di Siwalan Jebol, DPRD Pekalongan Minta Tiga Titik Kritis Ditangani Dua Hari

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 14:46:01 WIB
Tanggul Sungai Silempeng di Siwalan Jebol, DPRD Pekalongan Minta Tiga Titik Kritis Ditangani Dua Hari
Tanggul Sungai Silempeng di Siwalan, Kabupaten Pekalongan, yang jebol pada tiga titik.

PEKALONGAN — Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah mengalokasikan anggaran APBD untuk peninggian tanggul Sungai Silempeng dari titik paling selatan hingga paling utara. Pekerjaan itu kini berjalan sekitar 50 persen, tetapi bagian yang jebol diminta didahulukan karena dikhawatirkan mengganggu lahan pertanian warga.

Kepala Bidang PSDA DPU Taru Kabupaten Pekalongan Pujo Pramudiarto menyebut pekerjaan utama mencakup peninggian tanggul sepanjang kurang lebih 920 meter. Tanggul direncanakan selebar empat meter dengan peninggian sekitar satu meter, ditargetkan selesai sesuai kontrak pada akhir November.

Anggaran Rp 1 Miliar untuk Peninggian 920 Meter Tanggul

Menurut Pujo, anggaran pekerjaan bersumber dari APBD Kabupaten Pekalongan dengan nilai kurang lebih Rp 1 miliar. Sementara penanganan sementara pada tiga titik tanggul yang jebol diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga hari.

“Untuk tanggul itu sepanjang kurang lebih 920 meter, sampai lebar 4 meter, tinggi kurang lebih 1 meter, untuk anggaran kurang lebih Rp1 miliar mungkin. Ditarget mungkin sesuai dengan kontrak yang ada itu akhir November,” jelas Pujo.

Tiga Titik Jebol Diprioritaskan Sebelum Masa Tanam

Sumar menuturkan, hasil peninjauan menunjukkan tanggul tersebut berulang kali jebol setiap tahun. Karena itu, titik yang rusak diminta ditangani lebih dulu agar kondisi tanggul dapat segera kembali berfungsi.

“Tadi sudah sepakat kita dengan PSDA, Pak Pujo juga tadi, dari pelaksanaan juga untuk kita prioritaskan, mendahulukan yang jebol dulu. Ada tiga titik, supaya dalam waktu satu-dua hari, besok dan lusa ini bisa selesai,” ujarnya.

Derasnya aliran sungai yang berpotensi membawa air asin masuk ke area persawahan menjadi alasan utama percepatan penanganan. Kondisi itu terjadi menjelang masa tanam sehingga dikhawatirkan menurunkan produktivitas lahan pertanian masyarakat.

Pengamanan Vegetatif dengan Mangrove hingga Cemara Laut

Selain penanganan teknis, Sumar mendorong pengamanan tanggul melalui pendekatan vegetatif. Penanaman tanaman berakar kuat dinilai dapat membantu menjaga kondisi tanggul agar tidak selalu jebol.

“Kemudian harapannya ke depan juga perlu ada pengamanan tanggul ini sendiri dengan cara vegetatif, yaitu penanaman pohon mangrove di area tanggul ini, kanan-kiri. Baik itu berupa bakau, mungkin pohon api-api, kemudian cemara laut, waru laut, ataupun yang lainnya yang kira-kira akarnya kuat bisa membantu mengamankan tanggul yang ada, sehingga tidak selalu jebol,” pungkasnya.

Ia juga meminta kualitas pekerjaan tetap dijaga sesuai kontrak yang telah ditetapkan. Pujo menambahkan, masyarakat diajak turut merawat tanggul agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi.

“Pesan ke masyarakat, ya, intinya mari kita saling menjaga tanggul lah supaya tidak jebol lagi, saling merawat,” kata Pujo.

Follow www.jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lingkarjateng.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks