SEMARANG — Batik diperkenalkan sebagai busana modern yang bisa dikenakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari melalui peringatan Hari Batik Nasional di Kota Semarang. Peragaan busana di Hotel Santika Premiere Semarang menampilkan koleksi batik hasil perpaduan desain tradisional dan gaya kekinian. Kegiatan itu melibatkan Putri Anak, Denok Kenang Semarang, serta karyawan hotel setempat.
Kolaborasi lintas generasi tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi budaya bagi anak-anak dan generasi muda. Selain peragaan busana, rangkaian kegiatan diisi demonstrasi pemakaian kain batik tradisional serta lokakarya membatik. Pengunjung mendapat kesempatan mengenal proses pembuatan batik secara langsung.
Batik Semarang Diperkenalkan kepada Generasi Alpha
Upaya memperluas pengenalan batik juga didorong melalui keterlibatan generasi Alpha dalam peragaan busana. Anak-anak dan remaja tidak hanya diajak mengenakan batik, tetapi juga diperkenalkan pada keragaman motif yang berkembang di berbagai daerah Indonesia.
Regional Director Putri Anak Jawa Tengah, Adelina Damayanti, menekankan pentingnya pengenalan batik kepada generasi muda agar warisan budaya tersebut tetap dicintai dan digunakan oleh generasi penerus.
"Batik ini adalah warisan budaya yang harus kita lestarikan. Maka dari itu, kami memberikan edukasi kepada anak-anak, tentunya pada generasi muda, bahwa mereka harus mencintai batik," ujar Adelina, Jumat (2/10) malam.
Media Sosial Jadi Jalur Kampanye Generasi Muda
Peserta fashion show generasi Alpha, Rakhsandrina Maritzka, menuturkan bahwa kecintaan terhadap batik perlu dibangun dengan mengenalkan akar budaya kepada generasi muda. Media sosial dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan mengenai batik, termasuk motif-motif yang belum banyak dikenal oleh kalangan seusianya.
"Di Hari Batik ini saya sangat ingin generasi muda lebih mengenal akarnya dan tidak lupa akan budaya sendiri," kata Rakhsandrina.
Menurut dia, pengenalan batik tidak seharusnya berhenti pada motif yang sudah populer di masyarakat. Kekayaan batik dari Semarang, Jawa Tengah, hingga daerah lain di Indonesia perlu diperkenalkan agar semakin banyak generasi muda yang memahami keunikan dan nilai budayanya.
"Untuk melestarikan batik, saya bisa menggunakan media sosial. Terus bisa mengenalkan ke teman-teman saya kalau di Semarang itu banyak sekali macam batik. Bahkan di luar Semarang, di luar Jawa Tengah, banyak sekali batik yang harus kita lestarikan dan kita kenal," tuturnya.
Batik Tak Lagi Terbatas untuk Acara Formal
Melalui kegiatan tersebut, batik diharapkan tidak lagi dipandang sebatas pakaian formal yang hanya dikenakan saat menghadiri hajatan atau acara resmi. Koleksi batik dengan perpaduan desain tradisional dan gaya kekinian diperagakan di atas catwalk untuk menunjukkan bahwa kain batik dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia.
Peragaan busana yang menggabungkan peserta dari kalangan anak-anak hingga karyawan hotel itu sekaligus menegaskan bahwa batik Semarang memiliki ruang tumbuh di luar momentum seremonial. Edukasi budaya lewat lokakarya membatik menjadi bagian dari upaya menjaga regenerasi pengrajin dan pemakai batik di Jawa Tengah.