Pencarian

Rupiah Melemah ke Rp17.903 per Dolar, Tertekan Harga Minyak dan Yield AS

Senin, 05 Oktober 2026 • 09:50:01 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.903 per Dolar, Tertekan Harga Minyak dan Yield AS
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.903 per dolar AS pada pembukaan perdagangan spot.

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah melemah 0,16% ke Rp17.903 per dolar AS pada pembukaan perdagangan spot, tertekan harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel dan yield US Treasury di level 5,24%. Pergerakan mata uang domestik masih dibayangi ketidakpastian global, sementara data neraca perdagangan Indonesia belum sepenuhnya memberi dukungan.

Bloomberg Technoz mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp17.890-17.899 per dolar AS pada pukul 09.24 WIB. Tekanan eksternal menjadi pemicu utama pelemahan mata uang domestik, bersamaan dengan yield US Treasury yang masih menempati posisi tertinggi sejak 2002.

Harga Minyak dan Yield AS Jadi Pemicu Utama

Harga minyak mentah bertahan di atas level US$100 per barel, menambah beban bagi negara importir seperti Indonesia. Di saat yang sama, yield US Treasury melaju di kisaran 5,24%, menarik modal asing keluar dari pasar negara berkembang.

Kombinasi kedua faktor itu membuat investor cenderung memilih aset safe haven, terutama obligasi pemerintah AS. Tekanan terhadap rupiah pun sulit dihindari meski fundamental domestik masih terjaga.

Surplus Dagang Tinggi, tapi Ada Catatan Penting

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan mencapai US$3,55 miliar, jauh di atas proyeksi konsensus dan analis yang dihimpun Bloomberg sebesar US$700 juta. Namun, surplus itu terbentuk dari rendahnya capaian impor, bukan dari lonjakan ekspor.

Angka impor secara bulanan terkontraksi 11,63%, sementara secara tahunan justru melesat 19,09%. Kondisi ini menandakan permintaan domestik belum sepenuhnya pulih, sehingga surplus tidak serta-merta mencerminkan kekuatan ekonomi.

Kinerja Kumulatif Januari-Agustus Menyusut Tajam

Secara kumulatif, nilai perdagangan sepanjang Januari-Agustus surplus US$7,25 miliar. Capaian itu menyusut tajam dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$29,35 miliar.

Penurunan surplus sebesar lebih dari US$22 miliar ini menunjukkan tekanan pada neraca perdagangan yang perlu dicermati ke depan. Pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi tantangan menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian global.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal. Pelaku usaha yang bergantung pada komponen impor perlu mengantisipasi kenaikan biaya produksi dalam beberapa waktu ke depan.

Bagi investor, tekanan pada rupiah biasanya berdampak pada pasar obligasi dan saham sektor yang sensitif terhadap nilai tukar. Strategi lindung nilai (hedging) menjadi pertimbangan penting di tengah volatilitas yang masih berlanjut.

Bank Indonesia diharapkan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dan kebijakan suku bunga menjadi instrumen utama dalam menghadapi tekanan eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Follow www.jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks