KARANGANYAR — LLHPB PWA Jawa Tengah tidak sekadar menanam pohon untuk seremonial. Mereka membawa konsep pola asuh: setiap bibit yang ditanam harus dirawat hingga tumbuh besar dan bermanfaat bagi lingkungan.
Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PWA Jateng, Deny Ana I’tikafia, menegaskan hal itu di sela-sela jambore yang berlangsung di WonderPark Tawangmangu, Sabtu-Ahad (27-28/6/2026). "Menanam pohon bukan untuk seremonial saja, melainkan harus ada yang merawatnya. Sehingga pohon tersebut tumbuh menjadi pohon yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar," ujarnya.
Bibit dari BPDAS Solo, Langsung Dibawa ke Lokasi Jambore
Persiapan penanaman dimulai sejak Jumat (26/06/2026). Jajaran LLHPB, termasuk Wakil Ketua PWA Jateng Bidang LLHPB Sri Gunarsi dan Ketua LLHPB Lilik Tri Prihantini, mendatangi kebun bibit persemaian permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo di Dusun Bakaran, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Karanganyar.
Mereka membawa 1.000 bibit pohon yang terdiri dari alpukat (200), durian (100), jambu biji (100), nangka (200), pete (200), indigo fera (75), dan trembesi (125). Bibit-bibit itu langsung diangkut ke lokasi jambore.
Pohon Diturunkan ke Ranting, dari Air Terjun hingga Lima PRA
Pada Sabtu (27/06/2026), Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah memberikan sambutan dan menyerahkan bibit secara simbolis. Ia berpesan agar bibit dibagikan ke ranting yang membutuhkan.
Keesokan harinya, usai salat subuh berjamaah, tim LLHPB yang dipimpin Lilik Tri Prihantini turun ke ranting-ranting. Mereka menanam pohon di sekitar air terjun Jumog Putri Gondosuli, lalu berkunjung ke lima Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) untuk memberikan arahan tentang sistem pola asuh.
Lima PRA yang dikunjungi adalah PRA Blumbang (diterima Nurrahmah Wulandari), PRA Pancot (Nur Cahyani Fitria Saputri), PRA Tawangmangu (Sriyati Chasanah), PRA Nglurah (Sulastri), dan PRA Nglebak (Dwi Wahyu Widayanti). Ketua PCA Tawangmangu, Siti Muryati, menyambut langsung kedatangan mereka.
Pahala Mengalir dari Setiap Pohon yang Ditanam
Deny Ana I’tikafia menjelaskan, konsep ini berpedoman pada hadis tentang pahala menanam pohon. "Dari sejak menanam sampai akhir hayat yang menanam, pahalanya akan selalu mengalir. Bahkan bila pohon itu berbuah, lalu dimakan manusia atau hewan," imbuhnya.
Jambore Milad ke-109 Aisyiyah Jawa Tengah ini dihadiri majelis lembaga dari 35 PDA se-Jawa Tengah. LLHPB berharap konsep pola asuh bisa menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar aksi tanam musiman.