SEMARANG — Sekretaris Daerah Jateng Sumarno menegaskan bahwa pembangunan bendungan ini merupakan wujud nyata dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan infrastruktur sumber daya air di provinsinya. Dengan pasokan air yang lebih stabil, petani di Karanganyar dan sekitarnya bisa meningkatkan frekuensi tanam dari biasanya dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.
Kapasitas Produksi: 6 Ton Gabah per Hektare Setiap Musim
Sumarno merinci, setiap hektare lahan yang teraliri Bendungan Jlantah diperkirakan mampu menghasilkan rata-rata enam ton gabah per musim tanam. Jika dikalkulasi secara keseluruhan, infrastruktur ini sanggup menopang produksi hingga sekitar 27 ribu ton padi setiap tahun.
"Ini tentu akan meningkatkan kapasitas produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya," katanya di Semarang, Sabtu.
Manfaat Ganda: Irigasi, Pengendali Banjir, dan Air Baku
Bendungan Jlantah tidak hanya berfungsi sebagai irigasi pertanian. Sumarno menjelaskan, keberadaan bendungan ini juga memberikan manfaat besar bagi pengendalian banjir di daerah hilir serta penyediaan air baku untuk kebutuhan domestik masyarakat.
Dengan begitu, infrastruktur ini menjadi solusi terpadu yang menjawab persoalan air di musim kemarau sekaligus mengurangi risiko bencana saat musim hujan.
Lokasi Strategis di Lereng Lawu
Bendungan yang berlokasi di lereng Gunung Lawu ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dipercepat penyelesaiannya. Kawasan Jatiyoso sendiri dikenal sebagai sentra produksi sayuran dan padi, namun selama ini kerap mengalami kekeringan di musim kemarau.
Dengan adanya bendungan, aliran Sungai Jlantah yang sempat menyusut drastis setiap tahun kini bisa dimanfaatkan secara optimal sepanjang musim.
Dampak Langsung ke Petani: dari 2 Kali Tanam Jadi 3 Kali
Para petani di Desa Tlobo dan desa-desa sekitarnya selama ini hanya bisa menanam padi maksimal dua kali setahun karena keterbatasan air. Kini, dengan pasokan dari bendungan, mereka bisa menambah satu siklus tanam.
Jika harga gabah di tingkat petani stabil, tambahan satu musim tanam berpotensi meningkatkan pendapatan petani hingga puluhan juta rupiah per hektare setiap tahun.