JAWA TENGAH — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik kritis. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan perluasan serangan udara yang tidak hanya menyasar kawasan Selat Hormuz, tetapi juga menghantam Kota Yazd di Iran tengah, Ahvaz di barat daya, serta Provinsi Khuzestan di pesisir Teluk Persia. Akibatnya, sejumlah jalur transportasi utama di Provinsi Hormozgan lumpuh total setelah sedikitnya dua jembatan dan sebuah terowongan hancur.
Selat Hormuz Hampir Mati, Pasokan Energi Global Terancam
Dampak paling langsung dari konflik ini adalah kelumpuhan Selat Hormuz. Data perusahaan pelacakan pelayaran Kpler mencatat hanya delapan kapal yang berani melintas pada Kamis (16/7/2026), anjlok dari 48 kapal dua pekan lalu. Sebelum perang, lebih dari 100 kapal melintasi selat ini setiap harinya. CENTCOM sendiri mengaku telah mengalihkan empat kapal dagang dan melumpuhkan satu kapal lainnya dalam tiga hari pertama blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Konsekuensinya langsung terasa. "Jalur ini memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah dan gas dunia. Jika terus lumpuh, harga minyak berpotensi melonjak dan mengerek biaya impor BBM negara-negara konsumen seperti Indonesia," ujar seorang analis energi yang enggan disebutkan namanya. Bagi Pertamina, situasi ini menjadi sinyal bahaya karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah signifikan untuk diolah di kilang dalam negeri.
Iran Ancam Serangan Balasan Skala Penuh
Ketegangan semakin meningkat setelah penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan Teheran siap meluncurkan "operasi ofensif skala penuh" jika serangan AS berlanjut dalam dua hingga tiga hari ke depan. "Tidak akan ada lagi batas politik yang dianggap aman," ancam Rezaei, menandakan potensi meluasnya medan perang ke negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Ancaman itu bukan sekadar retorika. Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone ke Bahrain, Qatar, dan Kuwait, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi sejumlah personel Angkatan Darat mereka terluka akibat serangan drone Iran. Bahkan, kebakaran dilaporkan terjadi di fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air di Kuwait, menambah kekacauan di kawasan yang bergantung pada infrastruktur kritis tersebut.
Korban Sipil Berjatuhan, PBB Angkat Suara
Di tengah baku tembak militer, korban dari kalangan sipil mulai berjatuhan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melaporkan sedikitnya tiga warga sipil tewas saat melintasi jembatan yang menjadi sasaran serangan AS. Sehari sebelumnya, tujuh orang dilaporkan tewas di Kota Bandar Khamir setelah serangan menghantam jembatan dan stasiun kereta api. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Sekretaris Jenderal António Guterres menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak de-eskalasi segera.
Dengan jalur energi vital yang lumpuh dan ancaman perang regional yang semakin nyata, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran. Satu hal yang pasti: harga BBM di pompa bensin dan biaya logistik di Indonesia bisa menjadi korban berikutnya dari konflik yang tak kunjung reda ini.