Pencarian

Kisah di Balik Marga Kolopaking Kebumen, dari Kelapa Aking untuk Amangkurat I hingga Dukung Perang Diponegoro

Senin, 03 Agustus 2026 • 14:14:31 WIB
Kisah di Balik Marga Kolopaking Kebumen, dari Kelapa Aking untuk Amangkurat I hingga Dukung Perang Diponegoro
Makam leluhur keluarga Kolopaking di Desa Kalijirek, Kebumen, menjadi saksi jejak sejarah marga tersebut sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

KEBUMEN — Nama Kolopaking di Jawa Tengah tidak sekadar identitas keluarga. Di Kabupaten Kebumen, marga ini adalah penanda sejarah kekuasaan lokal yang berakar dari masa Kerajaan Mataram Islam dan berlanjut hingga era pergerakan nasional.

Asal-usulnya bermula dari kisah pelarian Raja Amangkurat I saat Pemberontakan Trunojoyo mengguncang Mataram pada akhir abad ke-17. Dalam kondisi sakit, sang raja singgah di kediaman Kiai Bagus Kertawangsa di wilayah Panjer yang kini masuk Kabupaten Kebumen.

Kala itu, tuan rumah bermaksud menyuguhkan air kelapa muda untuk pemulihan kondisi raja. Namun, karena malam gelap dan hujan, yang diambil justru kelapa tua atau kelapa aking. Di luar perkiraan, air kelapa tua itu membuat kondisi Amangkurat I berangsur pulih.

Atas jasa tersebut, Kertawangsa dianugerahi gelar Tumenggung Kelapa Aking sekaligus wewenang menguasai wilayah Panjer. Seiring waktu, sebutan itu melunak menjadi Kolopaking dan diwariskan kepada keturunannya.

Kekuasaan 156 Tahun dan Dukungan untuk Diponegoro

Dari Kertawangsa, jabatan Tumenggung hingga Adipati Kebumen diwariskan secara turun-temurun. Setidaknya empat generasi, dari Kolopaking I hingga Kolopaking IV, memimpin wilayah tersebut dalam rentang waktu lebih dari satu setengah abad.

Pengaruh trah ini tidak berhenti pada pemerintahan lokal. Tumenggung Kolopaking IV tercatat berpihak pada perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa pada 1825–1830.

Konsekuensinya datang setelah perang usai. Pemerintah kolonial Belanda mencabut kekuasaan keluarga Kolopaking di Kebumen dan berupaya menghapus berbagai simbol yang berkaitan dengan trah tersebut dari pemerintahan.

Soemitro Kolopaking dan Jejak di Pergerakan Nasional

Meski kekuasaan politiknya berakhir di era kolonial, kiprah keluarga ini berlanjut di panggung nasional. Salah satu keturunannya, Soemitro Kolopaking, menempuh pendidikan di Belanda dan ikut mendirikan Perhimpunan Indonesia.

Organisasi itu menjadi wadah penting bagi pelajar Indonesia di luar negeri untuk membangun semangat kebangsaan. Sekembalinya ke Hindia Belanda, Soemitro sempat berkarier di berbagai bidang sebelum menjadi perwira polisi.

Dalam tugasnya, ia dikenal berhasil mengungkap kasus kriminal yang melibatkan sosok legendaris Patra Kutang, yang kerap dijuluki "Robin Hood" dari Jawa.

Makam Leluhur di Desa Kalijirek

Jejak fisik keluarga Kolopaking masih bisa ditelusuri di kompleks makam keluarga yang berada di Desa Kalijirek, Kebumen. Lokasinya berada di area lebih tinggi dan dapat dicapai dengan menaiki sekitar sebelas anak tangga.

Di dalamnya terdapat makam para tokoh keluarga, termasuk Tumenggung Kolopaking I dan penerusnya. Sejumlah nisan memperlihatkan perpaduan aksara Arab dan Jawa, menjadi penanda akulturasi budaya pada masa itu. Kompleks tersebut hingga kini terawat dan dijaga seorang juru kunci.

Nama Kolopaking sendiri masih hidup melalui berbagai penamaan tempat di Kebumen, salah satunya Grand Kolopaking Hotel. Dari kisah sederhana tentang kelapa aking, lahirlah marga yang menjadi simbol kepemimpinan dan perjuangan di tanah Jawa.

Follow www.jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inibaru.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks