JAWA TENGAH — Keputusan kontroversial FIFA membebaskan Folarin Balogun dari skorsing otomatis di Piala Dunia langsung mendapat sorotan tajam. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengaku telah menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta review atas kartu merah yang diterima penyerang berusia 25 tahun itu.
Balogun diusir wasit Raphael Claus usai melanggar bek Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic, di babak sebelumnya. Jika hukuman berlaku, ia otomatis absen saat AS bertemu Belgia di Seattle, Selasa (1/7) dini hari WIB.
"Saya pikir itu bukan pelanggaran. Saya minta mereka meninjau ulang," ujar Trump di Gedung Putih, Senin (30/6). "Saya tidak bisa menyuruh mereka. Tapi keputusan yang tepat telah diambil. Kartu merah itu mengerikan."
FIFA Bungkam soal Tekanan Politik
Infantino mengakui menerima telepon dari Trump, namun menyebut proses hukum tengah berjalan di badan yudisial independen FIFA. Trump sendiri mengaku hanya meminta review dan tidak memerintahkan pembekuan hukuman.
Namun, keputusan FIFA mencabut skorsing Balogun untuk masa percobaan 12 bulan—berdasarkan Pasal 27 kode disiplin—langsung menuai kecaman. UEFA menyebut intervensi ini "melewati garis merah" dan mengancam integritas turnamen.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel, yang kehilangan Jarell Quansah karena kartu merah di laga melawan Meksiko, mempertanyakan preseden berbahaya ini. "Di mana batasnya? Apakah kami juga harus banding untuk kartu kuning? Ini pertanyaan tanpa jawaban," kata Tuchel.
Belgia Berseberangan, Banding Ditolak
Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) menyatakan "terkejut" dan akan terus memperjuangkan prinsip etika serta persaingan sehat. Namun, komite banding FIFA menolak permohonan Belgia dengan alasan mereka bukan pihak yang berhak mengajukan banding.
"Permintaan dinyatakan tidak dapat diterima karena Federasi Belgia bukan bagian dari proses awal dan tidak memiliki kapasitas hukum untuk mengajukan banding," demikian pernyataan resmi FIFA.
Dengan ditolaknya banding Belgia, Balogun dipastikan bisa tampil. Dari 189 kartu merah di sejarah Piala Dunia, hanya satu pemain sebelumnya yang lolos dari skorsing—Garrincha pada 1962, yang saat itu juga diwarnai tuduhan intervensi politik.
Konfederasi Brasil Bela Wasit
Trump tak hanya mengkritik keputusan FIFA, tetapi juga menyebut wasit Raphael Claus "agak mencurigakan". Pernyataan ini langsung direspons Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF).
"Tidak ada catatan dalam rekam jejaknya yang mendiskreditkan atau menimbulkan kecurigaan. Dia adalah profesional teladan," tegas CBF dalam pernyataan resmi.
FIFA menolak memberikan komentar tambahan saat dimintai tanggapan BBC Sport. Infantino kemudian menegaskan bahwa badan yudisial FIFA bersifat independen dan keputusan mereka harus dihormati. "Terkadang saya terkejut, kadang setuju, kadang tidak. Tapi saya selalu menghormati keputusan itu," ujarnya.