SEMARANG — Sepinya peminat di sejumlah SD negeri Kota Semarang bukan karena jumlah anak usia sekolah menurun. Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa populasi usia SD di ibu kota Jawa Tengah itu masih tumbuh positif.
“Kalau sekarang posisinya jumlah anak SD masih ada. Bukan menuju zero (pertumbuhan penduduk),” ujarnya di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (13/7/2026).
Hanya 11 Murid Baru untuk Dua Sekolah
Data dari Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menunjukkan angka yang kontras. SD Negeri Wonodri Semarang hanya menerima delapan siswa baru. Sementara itu, SD Negeri Purwoyoso 1 Semarang kebagian tiga murid baru.
Kondisi ini menjadi alarm bagi Dinas Pendidikan Kota Semarang. Agustina menyebut bahwa orang tua kini memiliki lebih banyak pilihan, dan sekolah swasta unggul dari segi fasilitas.
Pemkot Pilih Perbaiki Fasilitas, Bukan Merger
“Dinas Pendidikan menangkap, mengapa orang tua lebih suka menyekolahkan anak SD-nya di swasta? Karena fasilitas swasta lebih lengkap,” kata Agustina.
Pemerintah kota memilih jalur peningkatan kualitas ketimbang menggabungkan sekolah yang sepi peminat. Agustina menyatakan opsi merger bukan prioritas utama saat ini.
“Kalau memang SD-nya sepi peminat, merger bukan pilihan pertama. Kita masih melihat, karena kita punya guru yang bisa ditingkatkan kualitasnya,” tegasnya.
Fasilitas Digital dan Bangunan Jadi Sasaran Perbaikan
Pemkot Semarang menyiapkan langkah konkret untuk mengembalikan daya tarik SD negeri. Anggaran akan difokuskan pada perbaikan sarana pembelajaran, penguatan jaringan internet, dan peningkatan kualitas sekolah secara menyeluruh.
“Bangkunya diperbaiki, internetnya ditingkatkan, dan fasilitas lainnya. Survei membuktikan orang tua nyaman kalau anak-anak sekolah di tempat yang fasilitasnya canggih,” ujar Agustina.
Ia mengakui bahwa sebagian besar SD negeri masih tertinggal dari sekolah swasta dalam hal kecanggihan fasilitas. “Sementara sebagian besar SD kita kalah canggih dengan SD swasta,” lanjutnya.
Guru Jadi Modal, Bukan Beban
Di tengah tekanan efisiensi, Agustina justru melihat tenaga pengajar sebagai aset. Ia menekankan bahwa guru di SD negeri yang sepi peminat bisa ditingkatkan kompetensinya ketimbang sekolah tersebut ditutup atau digabung.
“Tinggal fasilitasnya yang perlu di-upgrade,” pungkasnya.