WONOGIRI — Ruas jalan alternatif yang kerap menjadi "jebakan" bagi pengendara roda empat di Baturetno akhirnya masuk daftar prioritas pembangunan. Pemkab Wonogiri mengalokasikan dana segar untuk pelebaran Jalan Temon–Setrorejo melalui program pemeliharaan berkala tahun anggaran 2026.
Proyek senilai Rp 4 miliar ini dijadwalkan mulai dikerjakan pada awal Agustus 2026. Durasi pengerjaan diperkirakan berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan, dan selama masa konstruksi kendaraan roda empat tidak diizinkan melintas.
Rekayasa Lalu Lintas: Mobil Dialihkan, Motor Wajib Ekstra Hati-hati
Selama proyek berjalan, pengguna mobil diarahkan memutar melalui jalur utama Baturetno–Boto–Karangturi. Sementara itu, kendaraan roda dua masih diperbolehkan lewat, namun pengendara diminta waspada terhadap aktivitas alat berat dan penyempitan badan jalan di lokasi pekerjaan.
Kebijakan ini diambil demi keselamatan pekerja dan pengguna jalan lain. Penyempitan akibat konstruksi dinilai berisiko tinggi jika dipaksakan dilintasi kendaraan besar.
Kronologi Truk Boks Terjebak yang Menjadi Titik Balik
Kebutuhan mendesak pelebaran jalan ini bukan tanpa bukti. Pada Kamis, 15 Januari 2026, sebuah truk boks bernomor polisi B 9305 TEV terjebak di tikungan tajam dekat Bukit Jenggruk, perbatasan Desa Temon dan Dusun Keren, Desa Setrorejo.
Truk besar tersebut diduga mengikuti arahan aplikasi peta digital tanpa mengetahui kondisi jalan yang sebenarnya. Imbasnya, kendaraan tidak mampu melanjutkan perjalanan maupun berputar balik, sehingga akses jalan alternatif lumpuh total.
Petugas terpaksa menutup akses di pertigaan Desa Temon sisi selatan dan pertigaan Dusun Keren sisi utara hingga proses evakuasi selesai. Peristiwa itu menjadi gambaran nyata bahwa ruas jalan ini sudah tidak ramah untuk kendaraan berukuran besar.
Harapan Warga: Efisiensi Waktu Tanpa Ketakutan Berpapasan
Selama ini, Jalan Temon–Setrorejo menjadi primadona bagi warga karena memangkas waktu tempuh menuju pusat Kota Wonogiri. Dibandingkan melewati jalur utama yang memutar, rute ini dinilai jauh lebih cepat dan efisien.
“Kalau lewat sini biasanya lebih cepat, nggak sampai 15 menit sudah tembus jalur ke Wonogiri tanpa melalui bangjo Batu, Boto, dan seterusnya,” ujar Diana, salah seorang pengguna jalan.
Sayangnya, meski permukaan jalan telah menggunakan cor beton, ruang gerak kendaraan sangat terbatas. Ketika dua mobil berpapasan, salah satu kendaraan harus berhenti atau keluar dari badan jalan. Situasi makin pelik ketika truk boks memasuki ruas tersebut karena hampir tidak ada ruang tersisa.
“Harapannya jalan ini harus diperlebar,” tegas Diana.
Bagian dari Paket Strategis Pemkab Wonogiri 2026
Proyek pelebaran ini merupakan salah satu dari 10 paket pengadaan barang dan jasa strategis Pemkab Wonogiri tahun 2026. Total anggaran keseluruhan paket mencapai Rp 67.668.682.329, yang tertuang dalam Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 020/87/HK/2026 yang ditandatangani Bupati Setyo Sukarno pada 10 Maret 2026.
Selain pelebaran Jalan Temon–Setrorejo, beberapa proyek infrastruktur lain yang masuk daftar prioritas antara lain:
- Revitalisasi Pasar Rakyat Slogohimo — Rp 17.017.100.000
- Pembangunan Gedung RSUD Purwantoro — Rp 10.518.544.972
- Rekonstruksi Jalan Eromoko–Tegalharjo — Rp 8.481.621.000
- Pemeliharaan Jalan Watuondo–Golo — Rp 4.000.000.000
- Pembangunan Embung Tlahap Paranggupito — Rp 4.000.000.000
- Rekonstruksi Jalan Miri–Lemahbang — Rp 3.405.379.000
Dengan dimulainya proyek ini, warga Baturetno berharap mobilitas harian semakin lancar, distribusi barang lebih cepat, dan risiko kecelakaan akibat jalan sempit dapat ditekan seminimal mungkin.