JAWA TENGAH — IEA merilis analisis yang mengonfirmasi bahwa transisi ke kendaraan listrik masih berjalan kencang di luar AS. Meskipun Partai Republik di AS gencar menghambat adopsi EV melalui kebijakan pro-bahan bakar fosil, data global justru menunjukkan tren sebaliknya. Laporan tersebut menyebutkan bahwa dari Maret hingga Juni 2026, penjualan EV di Australia, Brasil, India, Korea, dan Vietnam hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
China Ekspor EV Melonjak 120 Persen
China memang mengalami penurunan penjualan mobil domestik sekitar 20% pada paruh pertama 2026. Namun, negeri Tirai Bambu itu berhasil mengompensasinya lewat ekspor. Lonjakan ekspor mobil China mencapai 65%, dan khusus untuk EV, angkanya melesat lebih dari 120%.
Akibatnya, porsi EV dalam total ekspor China naik dari 35% di 2025 menjadi 45% di semester I-2026. Angka ini praktis menghapus defisit penjualan domestik China. IEA memproyeksikan pangsa pasar EV di China sendiri akan menembus 60% pada 2026, menjadikannya pasar mobil listrik terbesar sekaligus pemasok utama ke negara lain.
Perang Iran dan Krisis Energi Global Jadi Katalis
IEA menyoroti faktor lain yang mendorong adopsi EV: krisis energi global akibat kebijakan Trump di Iran. Konflik yang memblokade Selat Bab al-Mandab dan Selat Hormuz mengganggu pasokan minyak dunia. Harga BBM di luar AS sudah meroket, memicu krisis di Mesir, Yordania, Pakistan, hingga Filipina.
“Kendaraan di jalan raya menyumbang sekitar setengah konsumsi minyak dunia per tahun,” tulis IEA. Situasi ini membuat konsumen di negara-negara terdampak beralih ke mobil yang tidak bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Di sisi lain, produsen mobil tradisional justru mulai tertinggal.
Pabrikan Konvensional Kehilangan Dominasi
IEA mencatat pabrikan warisan (legacy automakers) masih menguasai 98% penjualan mesin pembakaran internal. Namun, pangsa mereka di pasar EV global hanya 55%. Sementara itu, pabrikan China terus menggerogoti pasar negara berkembang, yang diproyeksikan mewakili 60% permintaan mobil global dalam satu dekade ke depan.
Pergeseran nilai tambah dari komponen mekanis ke baterai, elektronik, dan perangkat lunak menjadi kelemahan utama pabrikan lama. “China menduduki posisi terdepan di sebagian besar rantai nilai baterai,” demikian laporan IEA. Di Indonesia, dampaknya sudah terasa lewat masuknya merek seperti Wuling dan BYD yang menawarkan EV dengan harga lebih kompetitif ketimbang pabrikan Jepang atau Eropa.