SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka peluang masuknya investasi asing senilai triliunan rupiah pada semester kedua tahun ini. Satu di antaranya berasal dari perusahaan baterai asal Australia yang berencana menanamkan modal sebesar Rp6,4 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan pertemuan dengan investor tersebut telah dijadwalkan pada 3 Agustus mendatang. Gubernur Ahmad Luthfi akan menerima langsung rombongan calon investor untuk membahas kelanjutan rencana investasi.
“Pada tanggal 3 Agustus nanti Pak Gubernur akan menerima investor baterai dari Australia. Rencananya mereka akan melakukan investasi sebesar Rp6,4 triliun,” jelas Sakina kepada beritajateng.tv di kantornya, belum lama ini.
UEA dan Singapura Susul Lewat Jalur IIPC
Selain Australia, Pemprov Jateng juga menjajaki kerja sama dengan investor dari Uni Emirat Arab. Rombongan pengusaha UEA dijadwalkan datang pada awal Agustus melalui fasilitasi Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Abu Dhabi.
“Calon investor ini dibawa oleh IIPC Abu Dhabi. IIPC ini membantu pemerintah Indonesia untuk melakukan promosi investasi, dan para pengusaha dari sana ternyata tertarik ke Jawa Tengah,” kata Sakina.
Meski nilai investasi dari UEA belum dipaparkan, Sakina berharap pertemuan tersebut berlanjut ke tahap realisasi. Pihaknya akan melakukan pendampingan penuh sejak proses penjajakan hingga proyek berdiri.
Dari Asia Tenggara, pengelola Kawasan Industri Kendal (KIK), Sembcorp asal Singapura, juga disebut tertarik memperluas pengembangan kawasan industri di Jateng. Ketertarikan itu muncul setelah CEO Sembcorp, Mr. Gareth, membandingkan potensi Jateng dengan proyek serupa di Vietnam.
“Saat mengomparasi dengan Jawa Tengah, pihak Sembcorp atau CEO-nya, Mr. Gareth, sangat tertarik untuk melakukan pengembangan kawasan industri lagi di Jawa Tengah,” imbuh Sakina.
17 Proyek Siap Ditawarkan ke Calon Investor
Untuk mempercepat realisasi investasi, DPMPTSP Jateng menyiapkan 17 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang siap ditawarkan. Tahun ini, empat proyek baru ditambahkan ke dalam daftar tersebut.
Proyek-proyek ini bakal dipromosikan dalam Central Java Investment Business Forum (CJIBF) dan business meeting yang digelar rutin bersama Bank Indonesia. Targetnya, forum ini memicu pertemuan one-on-one antara investor dan pemilik proyek hingga terbit Letter of Intent (LoI).
“Harapannya, dengan banyaknya IPRO yang ditawarkan pada forum investasi, banyak investor yang tertarik melakukan one-on-one meeting. Syukur-syukur bisa berlanjut pada Letter of Intent (LoI), untuk kemudian kami lakukan pendampingan,” jelas Sakina.
Di sisi lain, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jateng juga tumbuh, ditopang sektor industri kayu, hotel, restoran, kafe (horeka), ritel, dan perkantoran. Kota Semarang mencatat realisasi PMDN tertinggi se-Jateng berkat pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan dan bisnis pendukungnya.