BLORA — Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha, Supriyanto, SE, sempat berada di titik terendah hidupnya. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membayar biaya sekolah. Pengalaman pahit itulah yang justru membentuk mentalnya menjadi pribadi yang pantang menyerah.
Pria yang akrab disapa Mas Supri ini memulai karier sebagai sales dan sempat bekerja di sektor pertambangan. Titik balik kehidupannya datang saat ia memutuskan mundur dari pekerjaan dengan penghasilan tetap demi merintis usaha sendiri.
Keputusan Berani Meninggalkan Zona Nyaman
Keputusan untuk keluar dari pekerjaan tetap bukan tanpa rasa takut. Supriyanto sadar dirinya tengah memasuki dunia bisnis yang penuh ketidakpastian.
"Saya takut gagal. Tapi saya lebih takut jika tidak pernah mencoba," ungkapnya.
Kegagalan demi kegagalan sempat menghampiri. Namun, pria asal Blora itu tidak pernah menganggapnya sebagai akhir dari perjalanan.
"Kegagalan bukan akhir, melainkan guru terbaik. Masa-masa sulit mengajarkan saya menghargai setiap proses dan tidak mudah menyerah," katanya.
Segara Berdiri dengan Konsep Minuman Premium Terjangkau
Berbekal pengalaman tersebut, Supriyanto mendirikan Segara pada 2020. Usaha ini mengusung konsep minuman premium dengan harga yang bersahabat, melayani pembelian take away maupun dine in.
Ide usaha ini lahir dari keprihatinannya terhadap masyarakat yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa harus merogoh kocek dalam. Di tengah menjamurnya bisnis serupa, Supriyanto memilih tidak terjebak dalam perang harga atau mengejar popularitas sesaat.
"Fokus kami bukan menjadi yang paling murah atau paling viral, tetapi menjadi merek yang dipercaya. Kualitas harus konsisten, pelayanan harus tulus, dan pelanggan harus merasa dihargai," tegasnya.
Kesuksesan Dibangun oleh Tim yang Solid
Kini Segara Grup berkembang menjadi beberapa unit usaha. Dalam memimpin perusahaan, Supriyanto meyakini kesuksesan tidak dibangun oleh satu orang hebat, melainkan oleh tim yang solid dan budaya saling percaya.
Menurutnya, peluang usaha selalu lahir dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, seorang pengusaha harus terus belajar, mendengar suara pelanggan, dan membaca perubahan zaman.
Bagi Supriyanto, keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai puncak, melainkan seberapa kuat ia mampu bangkit setiap kali terjatuh. Ia juga menekankan pentingnya keberanian mengambil risiko yang telah diperhitungkan dengan matang dalam setiap langkah bisnisnya.