SOLO — Klenteng Tien Kok Sie di kawasan Pasar Gede, Solo, menjadi panggung perayaan budaya selama 12 hari penuh. Pagelaran Wayang Potehi 2026 yang berlangsung sejak Sabtu (1/8/2026) ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya nyata merawat warisan seni yang telah mengakar di Nusantara sejak abad ke-17.
Wayang Potehi, seni boneka sarung tangan khas masyarakat Hokkian, membawa kisah-kisah klasik Tiongkok yang sarat nilai kepahlawanan, kesetiaan, kebajikan, dan keadilan. Nama Potehi sendiri berasal dari bahasa Hokkian: po (kain), te (kantong), dan hi (wayang).
Dukungan Penuh Pemkot Surakarta untuk Pelestarian Budaya
Kehadiran Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani pada pembukaan pagelaran menjadi sinyal kuat dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan seni tradisi ini. Astrid secara khusus mengapresiasi Yayasan Klenteng Tien Kok Sie yang konsisten menyelenggarakan acara tahunan tersebut.
"Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Klenteng Tien Kok Sie beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan Pagelaran Wayang Potehi 2026 sebagai wujud nyata pelestarian seni dan budaya tradisional yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa," ujar Astrid dalam sambutannya, Sabtu (1/8/2026).
Baginya, Wayang Potehi memiliki nilai sejarah, filosofi, dan budaya yang memperkaya mozaik kebudayaan Kota Surakarta. Pagelaran ini dinilai menjadi ruang dialog budaya yang mampu mempererat kerukunan antarumat beragama sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.
Keberagaman sebagai Kekuatan, Bukan Pemisah
Astrid menegaskan bahwa melalui kesenian, masyarakat belajar bahwa keberagaman bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan. Pesan ini relevan bagi Surakarta yang dikenal sebagai kota dengan keberagaman budaya yang kuat.
Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya, baik budaya lokal maupun budaya yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kota Solo. Semakin banyak ruang yang diberikan kepada pelaku seni dan budaya, semakin kuat pula identitas Surakarta sebagai Kota Budaya yang menjunjung tinggi nilai toleransi.
"Jangan biarkan warisan budaya hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi jadikan sebagai inspirasi untuk terus berkarya dan melestarikannya di masa depan," pesan Astrid kepada generasi muda.
Simbol Apresiasi: Boneka Wayang dan Keramik Ikan Koi
Usai membuka acara, Astrid menerima cenderamata dari Yayasan Klenteng Tien Kok Sie berupa satu tokoh Wayang Potehi dan keramik bergambar ikan koi. Pemberian tersebut menjadi simbol apresiasi atas dukungan pemerintah kota terhadap pelestarian seni budaya dan penguatan kerukunan antarumat beragama.
Dalam filosofi Tionghoa, ikan koi melambangkan kemakmuran, keberuntungan, ketekunan, dan harapan akan kesuksesan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Surakarta yang terus merawat keberagaman budaya, persatuan, dan harmoni di tengah kehidupan masyarakatnya.
Pagelaran Wayang Potehi 2026 di Klenteng Tien Kok Sie berlangsung hingga 12 Agustus 2026. Masyarakat umum dapat menyaksikan langsung pertunjukan seni yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kota Solo ini selama periode tersebut.